Just Believe
Kenapa duduk diluar?'' Rainy menolehkan kepala ke arah lelaki yang mengambil duduk di sampingnya.
''Hm.'' Rainy menghiraukan pertanyaan Azillo, memfokuskan kembali pandangannya ke sebuah kaleng bekas di halaman yang meluber air hujan di dalamnya.
Tangan Azillo yang hangat menggenggam tangannya yang dingin akibat terlalu lama menampung air hujan di tangannya. Sensasi hangat tersebut menciptakan kenyamanan tersendiri di hati Rainy. Bagaimana bisa orang seperti Azillo menikungnya? Batinnya. Rasanya semua percaya masih meragu untuk hilang dari hatinya.
''Keriput.''
''Ap--?'' kaget Rainy.
''Tangan kamu. Udah kaya' tangan nenek-nenek.''
Rainy mendengus sebal dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Azillo. Namun dengan cepat pula Azillo menggagalkan usahanya tersebut.
''Dari dulu kamu gak pernah percaya sama aku. Waktu aku bilang cinta sama kamu dulu saja kamu gak percaya. Malah nuduh aku jadiin kamu taruhan.'' Laki-laki tersebut terus saja mengoceh tanpa memperdulikan delik tajam dari mata gadisnya.
''Kamu itu tipe yang gak banget. Cemburuan. Minta ampun. Tapi lebih gak bangetnya aku yang mau-mau saja sama kamu.'' Azillo tergelak menyadari kata-katanya sendiri.
''Oh gitu, jadi karena aku gak banget menurut kamu, kamu bisa seenaknya main api di belakangku? Kamu gak puas sama cewek macam aku?'' Rainy menarik nafasnya yang sempat terjeda karena perkataan panjangnya. ''Ok Fine.. You're free now. Terserah mau macarin Si Dina, Dena, Dinong.. I don't care.''
Susah payah Rainy berkata sepanjang, sepadat dan sejelas itu. Azillo hanya tersenyum kecil melihatnya. Seolah dia badut-badut berperut besar yang ada di pesta ulang tahun anak-anak. Ia geram sekali dan memukul-mukuli lengan Azillo hingga dia kesakitan memohon ampun.
''Aku bencii sama kamu, Azillo.''
Azillo tersenyum hambar dan menangkap tangan Rainy yang memukulinya. ''Kamu harus belajar buat lebih percaya sama aku.''
''Aku gak punya hubungan apa-apa sama Dina. Itu cuma salah paham. Kamunya aja yang sensi ngeliat aku jalan berduaan sama Dina. Hari minggu itu, kita mau ke rumah Tristan buat ngerjain tugas kelompok. Berhubung rumah kita deketan, aku ngajak dia bareng.'' Azillo menaik-naikkan alisnya, merasa menang.
''Sekarang, percaya kan sama aku?''
''Kamu gak bohong kan?''
''Nggak.''
''Sumpah?''
''Demi Tuhan.''
''Kamu--''
''Sst. Cukup percaya, aku cuma sayang sama kamu. Okay?''
Rainy menganggukkan kepalanya. Masih ragu. Tapi.. Azillo benar. Dia tidak boleh bersikap seperti ini. Kekanakan. Cemburu membutakan segala. Dia harus bisa menyingkirkan semua persepsi buruk tentang Azillo dan mulai mempercayainya.
''Kenapa sih suka banget hujan?'' tanya Azillo memecah kesunyian di antara mereka.
''Nggak ada apa-apa. Entah kenapa tiap hujan turun aku selalu merasakan ketenangan. Seolah-olah dia memang turun hanya untuk menghiburku.'' tangannya memeluk kakinya yang menekuk, menghangatkan tubuh.
''Oh iya? Kenapa gak nyuruh aku saja buat ngehibur kamu?''
''Beda. Rasanya berbeda.''
''Apanya yang beda?''
''Kamu rasain aja sendiri.'' kesal Rainy.
''Masuk, yuk.'' ajak Azillo saat hujan mulai deras mengguyur bumi.
''Entar sakit lagi gara-gara ujan-ujanan.''
''Kamu tau dari mana aku sakit?'' heran Rainy.
''Jangan karena mau ngilangin rasa sakit hati, kamu mandi hujan lagi.''
''Ihh nyebelin, itu karena aku emang suka mandi hujan. Buat nyegarin pikiran.'' Rainy menghentakkan kakinya ke lantai. Dan menutup pintu masuk tanpa menghiraukan Azillo yang memanggil namanya dari luar. Rainy bersandar pada pintu, mengulas senyum lebar. Rasanya semua kebahagiaan melingkupi dirinya sore ini walau petir telah menyambar-nyambar mengiringi nyanyian hujan di luar sana.
Comments
Post a Comment